♥ Borobudur, December 22nd, 2012. (via jamduapagi)
Ada yang berusaha kembali dan terlambat menyadari.
Merasa kehilangan tapi memang tidak pernah memiliki.
Bolehkah meminta kepada Sang Menggenggam Hati, agar diberi kesempatan sedikit lagi?
Bukan untuk kembali, hanya ingin meminta maaf.
Tidak hanya meminta maaf, tapi ingin menciptakan kebahagiaan lebih banyak lagi.
Sebelum benar-benar tidak bisa bersama lagi.
Sebelum menjadi jauh tanpa disadari dan menangis tak terhindari.
- Catatan Pengakuan Desember
Jogja, 21:40. 01012013
♥ Sitok Srengenge dalam Kereta (via kuntawiaji)
♥ Yasmin Mogahed (via lespritmodeste)
Delapan Kamu yang Mendapat Tempat di Dadaku
Kamu lembar-lembar halaman yang tak ingin segera kupungkas
Sepenuh diriku mempelajarimu hingga nyaris tandas
Kamu helai saputangan retas
Sepetak kenyamanan yang tahu benar bagaimana mengabaikan kesenangan diri dengan ikhlas
Kamu ritmis gerimis pukul enam pagi
Selimut awan-awan mendung, penghalau terik ketakutan yang seringkali tiada ujung
Kamu sejumput tembakau tergulung papir
Rela membakar diri agar lidahku hilang getir
Kamu kuku-kuku tangan yang sudi terkikir
Sekadar tak ingin sentuhan kusalahartikan sebagai cakaran, penyebab ketir
Kamu ceruk asbak kayu tua
Setia jadi wadah segala khawatir yang tiada bisa diterjemahkan bahasa
Kamu gurat luka tak kasat mata
Saksi hidup jerih payah diri menebus bahagia
Kamu setiap kata yang menyusun bait-bait sajak ini
Perwakilan segala yang ada pada diri
Sensasi Illahi terbaik yang sempat kumiliki
♥ (via babikbinal)
Kemarin, aku berharap rinai turun menemani langkahku. Berpikir dia akan melebat dan menyembunyikan lukaku dibawahnya. Lalu hari ini hujan turun, pelan-pelan menghapus jejak yang dia tinggalkan sehabis berlalu.
Benar yang dia katakan. Kita hanya perlu jarak untuk membuat kenangan itu menjadi berarti.
♥ (via sadgenic)